5.019 Titik Panas Terdeteksi BMKG di Indonesia, Papua Selatan Masuk Wilayah Risiko Karhutla Tinggi

Penulis: Ragil  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:28:01 WIB
Petugas memantau titik panas di wilayah Papua Selatan yang terdeteksi BMKG hingga 29 Juli 2026.

JAKARTA — BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau pada Agustus 2026 akan meliputi 48,84 persen wilayah daratan Indonesia, mencakup sebagian besar Pulau Papua. Pada September, puncak kemarau diprakirakan bergeser ke Papua Pegunungan bagian tengah, sementara Papua Selatan telah masuk dalam daftar wilayah dengan tingkat risiko kekeringan dan karhutla tinggi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, intensitas El Niño yang terpantau pada indeks bulanan Niño 3.4 telah mencapai 1,56 atau melampaui ambang kategori kuat.

"Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau," kata Ardhasena dalam keterangan resmi yang dikutip LinkPapua.id, Minggu (2/8/2026).

Papua Selatan Masuk Zona Merah Karhutla

Berdasarkan data BMKG hingga 29 Juli 2026, titik panas paling banyak terdeteksi di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Partikulat asap akibat karhutla juga telah terpantau di Kalimantan Barat.

BMKG mengimbau pemerintah daerah di wilayah berisiko tinggi untuk meningkatkan kewaspadaan. Selain Papua Selatan, daerah lain yang masuk kategori ini adalah Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

El Niño Kuat dan IOD Positif Perparah Kekeringan

Ardhasena menambahkan, potensi kekeringan dapat diperparah oleh kemungkinan aktifnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026. Suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang tercatat minus 0,387 menunjukkan peluang signifikan munculnya fenomena tersebut.

"Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia," ujarnya.

BMKG memperkirakan sebanyak 437 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,77 persen luas daratan Indonesia akan menghadapi musim kemarau dengan durasi lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Hari tanpa hujan terpanjang tercatat selama 80 hari di Pos Hujan Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Kapan Musim Hujan Datang?

BMKG memprediksi curah hujan kategori tinggi mulai muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026. Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 509 ZOM atau sekitar 54,5 persen wilayah daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Sementara itu, 77 ZOM atau 11,8 persen wilayah masih mengalami musim hujan, dan 113 ZOM atau 33,7 persen lainnya merupakan wilayah bertipe satu musim. Wilayah yang diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Agustus meliputi Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Reporter: Ragil
Sumber: linkpapua.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top