NTP Perkebunan Rakyat Papua Naik 1,47 Persen pada Juli 2026, Daya Beli Petani Mulai Membaik

Penulis: Saiful  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 12:16:31 WIB
Petani memanen hasil perkebunan rakyat di Papua, seiring kenaikan Nilai Tukar Petani subsektor perkebunan pada Juli 2026.

JAYAPURA — Membaiknya harga jual komoditas perkebunan rakyat dan turunnya biaya produksi menjadi motor utama kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat di Papua pada Juli 2026. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, NTP subsektor ini naik 1,47 persen dibanding bulan sebelumnya.

Angka NTP perkebunan rakyat tercatat 99,83 pada Juli 2026, meningkat dari posisi 98,38 pada Juni 2026. Meski masih di bawah angka 100 yang menandakan petani belum sepenuhnya untung, tren kenaikan ini menjadi sinyal perbaikan ekonomi di tingkat kampung.

Harga Komoditas Naik, Biaya Produksi Justru Turun

Akhmad Jaelani menjelaskan, kenaikan NTP tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 1,24 persen. Kenaikan ini seiring dengan membaiknya harga sejumlah komoditas hasil perkebunan rakyat yang banyak diusahakan warga Papua.

“Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani subsektor tersebut turun 0,23 persen sehingga turut meningkatkan daya beli petani,” ujar Akhmad di Jayapura, Rabu.

Artinya, petani perkebunan di Papua kini menerima harga jual lebih tinggi untuk hasil panennya, sementara biaya untuk membeli kebutuhan pokok dan sarana produksi justru mengalami penurunan. Kombinasi ini langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan relatif petani.

NTP Papua Secara Umum Masih di Atas 100

Secara keseluruhan, NTP Provinsi Papua pada Juli 2026 tercatat 101,11 atau naik 0,13 persen dibandingkan Juni yang sebesar 100,98. Angka di atas 100 ini menunjukkan secara rata-rata petani di Papua sudah mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi dari pengeluarannya.

“Peningkatan tersebut dipengaruhi kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,13 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani relatif stabil pada level 120,79,” jelas Akhmad.

Palawija Jadi Penopang, Hortikultura dan Peternakan Melemah

Selain perkebunan rakyat, NTP tanaman pangan juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,02 persen menjadi 99,27. Kenaikan ini terutama dipicu oleh membaiknya harga kelompok palawija yang banyak ditanam petani di berbagai kabupaten di Papua.

Namun, tidak semua subsektor mengalami perbaikan. NTP hortikultura turun 0,43 persen menjadi 96,05 akibat melemahnya harga kelompok sayur-sayuran dan tanaman obat. NTP peternakan juga turun 0,62 persen menjadi 103,89, sementara subsektor perikanan menurun 0,37 persen menjadi 108,54.

Deflasi di Perdesaan, tapi Biaya Produksi Pertanian Naik

BPS Papua juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) perdesaan Papua pada Juli 2026 sebesar 122,20, mengalami deflasi 0,08 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi turunnya indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Kondisi berbeda justru terjadi pada Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Papua yang tercatat 104,77 atau turun 0,28 persen. Penurunan ini terjadi karena kenaikan biaya produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,41 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga jual hasil pertanian yang hanya mencapai 0,13 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa meskipun harga jual naik, petani masih menghadapi tekanan dari sisi biaya operasional di lapangan,” pungkas Akhmad.

Reporter: Saiful
Sumber: papua.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top