Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Papua memperluas edukasi layanan keuangan formal ke masyarakat nelayan pesisir, mencakup instrumen investasi seperti tabungan emas dan cicilan emas. Langkah itu diambil menyusul program ekonomi biru yang digencarkan pemerintah, dengan OJK berperan memastikan nelayan memahami produk jasa keuangan yang sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.
JAYAPURA — Kepala Bagian Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Provinsi Papua Yosua Rinaldy menyatakan edukasi keuangan bagi nelayan menyasar tiga sektor sekaligus: perbankan, pasar modal, dan industri keuangan nonbank. Pendekatan itu dipilih agar warga pesisir bisa menentukan sendiri produk yang cocok dengan penghasilan mereka.
Yosua menuturkan program ekonomi biru yang sedang digenjot pemerintah membuat peran OJK makin penting di wilayah pesisir. Pihaknya ingin memastikan nelayan tidak hanya punya akses ke lembaga keuangan formal, tetapi juga paham cara memakainya.
"Saat ini pemerintah sedang gencar-gencar menghidupkan ekonomi biru, sehingga peran kami sebagai OJK adalah memastikan masyarakat pesisir, termasuk nelayan, memiliki pemahaman yang baik mengenai layanan dan produk jasa keuangan," kata Yosua di Jayapura, Senin.
Dalam edukasi yang berjalan bersama lembaga jasa keuangan, OJK memperkenalkan produk investasi seperti tabungan emas dan cicilan emas. Dua instrumen itu disebut bisa jadi cara nelayan mengelola pendapatan yang sifatnya musiman.
Yosua menekankan setiap instrumen keuangan punya karakteristik, manfaat, dan prosedur berbeda. Nelayan didorong memahami keunggulan sekaligus ketentuan tiap produk sebelum memutuskan memakainya.
"Saat ini, kami bersama lembaga jasa keuangan sedang memberikan edukasi mengenai produk investasi seperti tabungan emas dan cicilan emas yang dapat menjadi pilihan masyarakat dalam mengelola pendapatan," ujarnya.
Selain investasi, OJK menyisipkan materi perlindungan masyarakat melalui program jaminan sosial bagi nelayan. Pekerjaan melaut dinilai punya risiko tinggi sehingga pemahaman soal proteksi menjadi bagian penting dari literasi keuangan.
"Setiap instrumen keuangan memiliki karakteristik, manfaat, serta prosedur yang berbeda sehingga masyarakat perlu memahami keunggulan dan ketentuannya sebelum menggunakan produk tersebut," kata Yosua.
OJK berharap nelayan Papua bisa berinvestasi, menabung, dan memilih proteksi secara tepat. Dampak yang dibidik bukan sekadar akses ke layanan keuangan formal, tetapi juga peningkatan pendapatan dan kesejahteraan warga pesisir.
Yosua menyebut pihaknya terus memantau perkembangan program edukasi dan inklusi keuangan bersama lembaga jasa keuangan. Pemantauan mencakup perkembangan pembukaan rekening hingga penyaluran kredit kepada masyarakat.
"Kami terus memantau perkembangan program edukasi dan inklusi keuangan yang dilakukan bersama lembaga jasa keuangan, termasuk perkembangan pembukaan rekening dan penyaluran kredit kepada masyarakat," ujarnya.