Tim Dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF ITB) menggelar pengabdian masyarakat di Kampung Amyas, Distrik Supiori Barat, Kabupaten Supiori, Papua, pada 2–3 Oktober 2026 untuk memperkuat pencegahan stunting. Sebanyak 30 siswa mengikuti skrining anemia melalui pemeriksaan kadar hemoglobin dalam kegiatan bertajuk "Penguatan Kapasitas Masyarakat dan Kader Kesehatan dalam Pencegahan Stunting, Pengelolaan Penyakit Degeneratif, dan Swamedikasi". Program ini menyasar remaja sebagai kelompok yang dianggap kunci dalam memutus mata rantai stunting sejak dini.
JAYAPURA — Ketua tim pengabdian masyarakat SF ITB, Yangie Dwi Marga Pinanga, menyebut kegiatan di Kampung Amyas menyasar remaja karena status gizi mereka menentukan kesehatan generasi berikutnya. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 mencatat prevalensi stunting balita di Kabupaten Supiori mencapai 40,2 persen. Angka itu menjadi dasar tim memilih pendekatan pencegahan dini ketimbang penanganan setelah stunting terjadi.
Pinanga menjelaskan bahwa upaya memutus rantai stunting perlu dimulai jauh sebelum seseorang memasuki masa kehamilan. Pemahaman gizi pada masa remaja, katanya, akan berpengaruh terhadap kesehatan diri mereka sendiri dan generasi mendatang.
"Sehingga melalui program ini kami mengajak remaja di Kampung Amyas untuk memutus mata rantai stunting sejak dini," kata Pinanga dalam siaran pers yang diterima Antara di Jayapura, Senin.
Tim juga menekankan bahwa pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab remaja putri, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga kampung.
Dari 30 siswa yang diperiksa kadar hemoglobinnya, hampir 30 persen tercatat memiliki Hb di bawah rentang normal. Temuan itu terutama muncul pada remaja putri.
Pinanga menegaskan hasil skrining tersebut digunakan sebagai bahan edukasi, bukan