Han Jun-hee Beber Rahasia D.P. hingga The Blue Road di Busan

Penulis: Ragil  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 21:19:31 WIB
Sutradara Korea Han Jun-hee berbicara dalam masterclass Netflix Creative Asia di Busan International Film Festival.

PAPUA — Sutradara Korea Han Jun-hee mengungkap strategi di balik karya-karya berisikonya dalam masterclass Netflix Creative Asia di Busan International Film Festival. Ia membahas proses kreatif serial D.P., Weak Hero Class, hingga The Blue Road yang tayang di Netflix 20 November. Penonton diajak memahami mengapa keberanian mengambil risiko jadi kunci cerita yang menarik.

Han Jun-hee berbicara di hadapan peserta masterclass tentang bagaimana ia memilih materi yang tidak biasa. Penulis sekaligus sutradara asal Korea itu menilai bahwa bermain aman justru menjadi risiko tersendiri, terutama di industri hiburan Korea yang kompetitif.

"There has to be risk for something to be interesting. Only if you take risks can you tell an interesting story. Trying to play it safe all the time, especially in Korea, is a risk in itself," ujar Han dalam sesi yang dimoderatori Kim Kijae, content manager Netflix Korea.

Dalam forum tersebut, Han membahas dua serial yang tayang perdana di seksi On Screen Busan tahun ini. The Blue Road ia tulis dan sutradarai sendiri, sementara Dead-End Job ia ciptakan. Keduanya mewakili pendekatannya terhadap cerita yang menantang pasar.

Strategi di Balik D.P. dan Weak Hero Class

Han menjelaskan bagaimana ia mendekati D.P. (2021), serial tentang polisi militer Korea yang memburu desertir. Banyak yang mengira cerita tentara hanya relevan untuk penonton pria, tetapi Han melihat peluang lebih luas.

"When it comes to army stories, some people think only guys can relate; but for female audience, they all have fathers or brothers who might have been in the army. If you think outside of the box, it could be an interesting story," katanya.

Pendekatan serupa ia terapkan pada Weak Hero Class (2022), yang mengangkat tema perundungan dan kekerasan sekolah. Han bertindak sebagai creative director, sementara posisi sutradara dipercayakan kepada talenta baru.

Ia menyebut genre ini sering dianggap hanya cocok untuk film berbiaya kecil dan penonton pria. Namun menurutnya, pengalaman sekolah adalah hal universal yang bisa dirasakan siapa saja.

"In Korea, the perception is that this genre can only be made into a film with a small budget. And again, the story looks like it might only appeal to guys. But we all went through high school; met friends there, got jealous of someone, wanted to be someone; these are universal feelings. But then we also added action to the story," jelasnya.

Han juga mengaku sengaja memilih trio aktor muda populer Park Ji-hoon, Choi Hyun-wook, dan Hong Kyung untuk menarik penonton perempuan. Ketiganya kini membuktikan diri sebagai aktor berbakat dan bintang besar. Park bahkan membintangi The King's Warden yang menjadi film Korea terlaris sepanjang masa.

Memberi Ruang untuk Sutradara Baru

Saat mundur dari kursi sutradara Weak Hero Class, Han menekankan pentingnya membuka jalan bagi talenta baru. Ia yakin pendekatan ini membuat serial tersebut bersinar lebih terang.

"We have so many new talents emerging, so we can help them make something great, and by bringing in an emerging director, I knew Weak Hero Class would really shine," ujarnya.

Ia lalu membahas Pilot (2024), film komedi garapan Kim Han-gyul yang diadaptasi dari film Swedia Cockpit (2012). Ceritanya tentang pilot yang berpura-pura menjadi adik perempuannya setelah dipecat.

Menurut Han, aktor utama Jo Jung-suk merespons naskah hanya dalam tiga hari. Jo disebut ingin mencoba hal berbeda di genre komedi dan merasa perannya bisa lebih dalam dari sekadar komedi permukaan.

"With all the writers and directors I work with, if we take on something we're not familiar with, we have to show that we understand it. We can't be prejudiced or biased. Whatever the story, I don't think there's a topic we can't cover in a series or film. I don't think you can say, 'This isn't commercial enough.' If you have a message you want to convey to the audience, what is it you want to say? That is the most important part of filmmaking," tegasnya.

Dead-End Job dan Tantangan Lintas Negara

Pendekatan serupa ia pakai saat menciptakan Dead-End Job, garapan sutradara Kim Da-min. Serial ini mengangkat topik serius soal pasar tenaga kerja, tetapi dibungkus elemen fantasi agar mudah diterima penonton.

"When the scriptwriters first brought this to me, Netflix said it's either going to be a short film or not work out at all. The story needed to be told in a familiar way to resonate with people, so that's why we thought a fantasy element would be interesting," kenang Han.

Untuk The Blue Road, Han kembali ke kursi sutradara. Serial ini diadaptasi dari manhwa tentang dua detektif dari Korea dan Jepang yang bersekutu memburu pembunuh berantai dengan korban profil tinggi di kedua negara.

Proses produksi lintas negara menghadirkan tantangan budaya tersendiri. Kru Korea dikenal cepat dan fleksibel, sementara tim Jepang teliti dan mempersiapkan segala hal dengan matang.

"Korean crews are very fast and flexible, while Japanese teams are meticulous and prepare everything very carefully. Neither way is better or worse; just different," ujarnya.

"Japanese crew members all have unique roles to play and focus on getting everything perfect, while in Korean teams, we all help out on everything and do it quickly. If it doesn't work out, we just try it again. At first, there were lots of misunderstandings, but we found we had a lot to learn from each other and eventually found a way to make it all work," tambah Han.

The Blue Road mulai streaming di Netflix pada 20 November. Dead-End Job dijadwalkan tayang 30 Oktober, sementara serial ketiga di seksi On Screen Busan, The Remarried Empress dari Disney+, streaming mulai 4 November.

Ketiga judul ini menambah deretan konten Asia yang menyasar penonton global, memperkuat posisi Korea sebagai pemasok cerita lintas genre di platform streaming internasional.

Reporter: Ragil
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top