Pencarian

BRIN Minta Kajian Neraca Air Sebelum Data Center AI Jatiluhur Dibangun

Rabu, 30 September 2026 • 16:17:32 WIB
BRIN Minta Kajian Neraca Air Sebelum Data Center AI Jatiluhur Dibangun
BRIN menilai pembangunan data center AI di Waduk Jatiluhur memerlukan kajian neraca air dan simulasi operasi waduk sebelum ditetapkan kelayakannya.

PAPUA — Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN menegaskan pembangunan data center AI di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, butuh kajian neraca air dan simulasi operasi waduk sebelum disimpulkan layak atau tidak. Proyek bernilai Rp 3,5 triliun dengan kapasitas listrik hingga 120 MW itu dikhawatirkan mengganggu alokasi air irigasi dan air baku, terutama saat musim kemarau.

Perwakilan kelompok ahli limnologi BRIN menjelaskan bahwa penggunaan air Waduk Jatiluhur untuk operasional data center tidak bisa dinilai hanya dari besar kecilnya volume air yang tersedia. Kajian perlu mencakup pola pengambilan air, neraca air waduk, serta keandalan pemenuhan kebutuhan pada berbagai kondisi hidrologi.

Mengapa Data Center Butuh Air dalam Jumlah Besar

Sistem pendinginan data center pada kondisi tertentu mengonsumsi air dalam volume signifikan. Air yang diambil tidak seluruhnya menjadi air limbah.

Sebagian hilang lewat evaporasi akibat panas dari peralatan komputasi, server, dan GPU. Sisanya menjadi blowdown, yakni air yang sengaja dikeluarkan dari sistem cooling tower untuk mengendalikan konsentrasi mineral.

BRIN menekankan perlunya simulasi operasi waduk dengan memasukkan data center sebagai pengguna baru. "Selain jumlah air yang diambil, juga perlu dihitung dan dikaji terkait berapa besar air yang benar-benar dikonsumsi dari operasi data center, melalui besar evaporasi yang dapat terjadi, serta berapa yang menjadi blowdown," ujar mereka.

Kekhawatiran Debit Air saat Kemarau

Pertanyaan utama BRIN: apakah tambahan kebutuhan air bisa dipenuhi secara andal tanpa mengganggu irigasi, air baku, dan kebutuhan lain yang sudah ada. Risiko terbesar muncul pada musim kemarau atau tahun kering.

"Apakah tambahan kebutuhan air tersebut dapat dipenuhi secara andal tanpa mengganggu kebutuhan yang sudah ada seperti, irigasi, air baku, dan kebutuhan lainnya, terutama pada musim kemarau," jelas perwakilan BRIN melalui pesan singkat, Rabu (30/9/2026).

Hasil kajian itu nantinya jadi dasar menentukan alokasi air yang bisa diberikan, syarat efisiensi penggunaan air, dan skenario operasi yang diperlukan.

Kualitas Air Buangan Ikut Disorot

Aspek kualitas tidak kalah penting. BRIN menilai perlu kajian atas kualitas air yang dibutuhkan sistem pendinginan data center dan kualitas air buangan yang dihasilkan.

Tujuannya memastikan air yang dipakai memenuhi persyaratan sistem pendinginan, sekaligus air buangan bisa dikelola sesuai ketentuan dan tidak mencemari perairan sekitar.

Skala Proyek dan Sikap Gubernur Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya menegaskan kebutuhan air proyek ini harus dihitung sejak awal. Alasannya, alokasi air untuk sektor pertanian tidak boleh terganggu.

Proyek data center AI di kawasan Jatiluhur memiliki nilai investasi Rp 3,5 triliun. Fasilitas ini dibangun di atas lahan 8.000 meter persegi dengan kawasan pengembangan mencapai 11 hektare.

Kapasitas daya listriknya mencapai 120 megawatt, dengan ruang pengembangan hingga 640 MW. Skala sebesar itu menempatkan pasokan air sebagai variabel krusial yang menentukan kelayakan operasional jangka panjang.

Sampai kajian neraca air rampung, status pemanfaatan Waduk Jatiluhur untuk data center AI masih terbuka. BRIN memposisikan diri tidak menolak atau menyetujui, melainkan meminta data hidrologi jadi dasar keputusan sebelum alokasi air ditetapkan.

Follow www.papuaonline.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks