PAPUA — Vivo memamerkan headset mixed reality Vision Discovery Edition di ajang Vivo NEXT 2026 di India, Selasa. Perangkat ini mengusung dua layar Micro-OLED, eye tracking, dan kontrol berbasis gestur, ditenagai chipset Qualcomm Snapdragon XR2+ Gen 2 serta menjalankan sistem operasi OriginOS Vision. Harga dan jadwal ketersediaannya belum diumumkan, tetapi konsumen sudah bisa mencobanya di gerai Vivo di seluruh India.
Vivo NEXT 2026 menjadi panggung pertama bagi Vision Discovery Edition di India. Headset ini diposisikan sebagai perangkat spatial computing, kategori yang menggabungkan elemen virtual ke ruang nyata lewat kamera dan sensor. Langkah Vivo menandai masuknya perusahaan ke segmen yang sebelumnya dikuasai pemain seperti Meta dan Apple.
Spesifikasi Utama Vision Discovery Edition
- Layar: Dual Micro-OLED
- Chipset: Qualcomm Snapdragon XR2+ Gen 2
- Sistem operasi: OriginOS Vision
- Kontrol: Eye tracking dan gestur tangan
- Kategori: Mixed reality / spatial computing
Kombinasi Snapdragon XR2+ Gen 2 dan layar Micro-OLED menempatkan headset ini di kelas atas untuk perangkat XR. Chipset tersebut dirancang Qualcomm khusus untuk kebutuhan rendering real-time di perangkat yang dipakai di kepala, sementara Micro-OLED dikenal punya kerapatan piksel tinggi dan kontras dalam.
Eye Tracking dan Kontrol Gestur Jadi Andalan
Dua fitur yang paling disorot Vivo adalah eye tracking dan kontrol berbasis gestur. Eye tracking memungkinkan antarmuka merespons ke arah pandangan mata pengguna, sehingga navigasi tidak selalu bergantung pada controller fisik. Sementara kontrol gestur membuat pengguna bisa berinteraksi dengan objek virtual memakai gerakan tangan langsung.
Pendekatan ini sejalan dengan arah industri XR yang berusaha mengurangi ketergantungan pada aksesori tambahan. Pengalaman pakai jadi lebih natural, meski akurasi pelacakan tetap jadi faktor penentu kenyamanan di pemakaian panjang.
Harga dan Ketersediaan Masih Gelap
Vivo belum membuka harga resmi maupun tanggal penjualan Vision Discovery Edition. Yang sudah dipastikan, calon pembeli di India bisa mencoba perangkat ini lebih dulu di gerai-gerai Vivo di seluruh negeri. Strategi demo di toko fisik lazim dipakai produsen headset karena perangkat seperti ini sulit dinilai hanya dari spesifikasi di atas kertas.
Belum ada keterangan apakah headset ini akan masuk pasar Indonesia atau pasar global lainnya. Mengacu pada pola peluncuran Vivo sebelumnya, perangkat kategori baru biasanya diperkenalkan lebih dulu di satu pasar lalu menyusul ke wilayah lain.
Posisi di Pasar Mixed Reality
Segmen mixed reality masih didominasi segelintir merek dengan ekosistem konten yang mapan. Kehadiran Vivo menambah pilihan, tetapi tantangan terbesarnya bukan cuma hardware. Ketersediaan aplikasi dan dukungan pengembang di OriginOS Vision akan menentukan apakah headset ini dipakai rutin atau hanya jadi barang pajangan.
Dari sisi spesifikasi, Vision Discovery Edition sudah berada di jalur yang tepat dengan chipset XR2+ Gen 2 dan layar Micro-OLED. Pertanyaan yang belum terjawab tinggal soal harga dan ekosistem.
Headset ini paling relevan buat pengguna yang ingin mencoba spatial computing tanpa harus langsung membeli perangkat kelas enterprise. Tanpa angka harga resmi, sulit menilai daya saingnya terhadap kompetitor yang sudah lebih dulu hadir.