JAYAPURA — Tim kolaborasi film Pesta Babi–Kolonialisme di Zaman Kita merampungkan penyaluran dana solidaritas dari para penonton. Nominal yang terkumpul mencapai Rp 517.928.770, berasal dari tiket sukarela selama masa nobar. Dana itu seluruhnya dialokasikan untuk pengungsi internal di Papua yang berasal dari daerah operasi militer dan konflik bersenjata, seperti Provinsi Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya (Kabupaten Maybrat).
Bantuan Disalurkan ke Distrik Sinak dan Sugapa
Tim pertama yang terdiri dari Pdt. Yahya Lagowan, Pdt. Warius Enumbi, Pdt. Elianus Tabuni, dan seorang staf Sekretariat Sinode Kingmi menyalurkan bantuan di dua lokasi. Pada 16 Juni, bantuan diberikan kepada pengungsi di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak. Dua hari kemudian, giliran pengungsi di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, yang menerima.
“Ini anak-anak Tuhan–mereka membuat film Pesta Babi dan memberi sumbangan untuk yang sedang dalam pengungsian. Mereka tidak bisa datang ke sini dan meminta kami yang datang mengantarkan bantuan kemanusiaan,” ujar Pdt. Yahya Lagowan, Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua, di hadapan para pengungsi di Sugapa.
Granat Meledak di Dekat Lokasi Pengungsian
Situasi di Intan Jaya saat penyaluran bantuan disebut sangat tidak aman. Pendeta Yahya Lagowan dan timnya melaporkan adanya pesawat nirawak (drone) yang berkeliaran, termasuk di tempat mereka menginap dan di sekitar gereja. Sebuah granat yang dijatuhkan meledak di lokasi para ibu mencuci ubi, menyebabkan dua perempuan menjadi korban. Komnas HAM Perwakilan Papua mencatat setidaknya enam rangkaian kekerasan di Intan Jaya sepanjang Mei-Juni 2026.
Pengungsi Nduga di Wamena dan Distrik Mbua
Tim kedua yang terdiri dari Pdt. Marthen Keiya, Pdt. Nataniel Tabuni, dan Pdt. Yairus Elopere menyalurkan bantuan untuk pengungsi asal Kabupaten Nduga. Penyaluran dilakukan di dua titik pengungsian di Wamena (Ilekma dan Kimbim), Kabupaten Jayawijaya, serta Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, pada 17-18 Juni. Lokasi ini menjadi tujuan warga dari Distrik Yigi dan Mbulmu Yalma.
“Kami datang dalam rangka membawa sesuai dengan apa yang mereka [penonton Pesta Babi] minta. Kami tidak tambah-tambah dan tidak kurangi, tapi sesuai yang mereka minta–para penonton Pesta Babi, sehingga kami salurkan barang ini. Barang sudah sampai di sini. Kami punya tugas di kantor sinode, hanya tangisan yang selalu kami naikkan kepada Tuhan,” kata Pdt. Marthen Keiya.
122.932 Jiwa Mengungsi Sejak 2018
Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) mencatat jumlah pengungsi internal di Tanah Papua mencapai 122.932 jiwa sejak 2018 hingga saat ini. Angka itu belum termasuk korban meninggal di lokasi pengungsian akibat kondisi yang terus memburuk. Gelombang pengungsi terbesar berasal dari Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.
Tim kolaborasi film menyebut persoalan ini masih jauh dari selesai. Operasi militer di Papua disebut membesar seiring proyek strategis nasional yang menyasar 2,5 juta hektare tanah adat untuk swasembada pangan dan energi. Masyarakat adat disebut masih berjuang melalui jalur hukum dan aksi damai.