TIMIKA — Langkah penghentian operasi ini diambil setelah peristiwa penembakan yang juga diikuti pembakaran pesawat. Direktur Utama PT AMA, Bob Kayadu, menyatakan masa berkabung ini berlaku untuk seluruh personel dan keluarga besar maskapai yang telah beroperasi di Papua selama 67 tahun.
“Kami memutuskan menghentikan sementara seluruh pelayanan karena seluruh personel dan keluarga besar AMA sedang berduka,” ujar Bob dalam pernyataan yang dikutip Sabtu malam (4/7/2026).
67 Tahun Beroperasi, Baru Pertama Kali Alami Serangan KKB
Bob Kayadu menegaskan bahwa penyerangan terhadap pesawat dan awak AMA yang terjadi di Balingga merupakan duka terdalam. Kejadian ini disebut sebagai yang pertama kali sepanjang sejarah penerbangan AMA di Papua.
“Ini merupakan kehilangan yang sangat mendalam bagi AMA,” lanjut Bob.
Ia juga menekankan bahwa selama ini pesawat AMA tidak pernah menerbangkan personel TNI-Polri maupun kelompok kriminal bersenjata. Kehilangan yang dialami bukan karena kecelakaan teknis, melainkan aksi kekerasan bersenjata.
Jenazah Pilot Nicholas Sudah Diterbangkan ke Jakarta
Jenazah Pilot Nicholas Gosselin telah diterbangkan ke Jakarta pada Jumat (3/7/2026). Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) akan mengurus proses pengiriman jenazah ke Amerika Serikat.
“Mudah-mudahan tidak ada lagi pilot yang ditembak dan pesawatnya dibakar,” kata Bob Kayadu menambahkan.
Aktivitas Penerbangan dan Operasional Kantor Dihentikan Total
Selama periode 6 hingga 13 Juli 2026, seluruh aktivitas penerbangan dan operasional kantor AMA ditiadakan. Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan sekaligus masa berkabung bagi seluruh karyawan dan keluarga besar maskapai.
Penghentian penerbangan ini berdampak pada layanan transportasi udara di sejumlah daerah terpencil di Papua yang selama ini mengandalkan AMA. Maskapai ini dikenal melayani rute-rute pedalaman yang sulit dijangkau moda transportasi lain.