SORONG — Jambore Pemuda Adat Domberay 2026 resmi dibuka dengan penabuhan tifa bersama oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Papua Barat Daya, Winarto, dan perwakilan pemerintah daerah. Prosesi pembukaan diawali ritual adat Mansorandak, pengalungan selempang, pertunjukan musik tradisional dari grup Belantara, serta tur keliling Rumah Etnik Papua dan Museum Budaya.
Selama satu pekan, para peserta mengikuti rangkaian agenda penguatan kapasitas. Materi yang diberikan mencakup workshop budaya, sesi storytelling bersama tetua adat, pelatihan produksi foto dan video dokumenter budaya, hingga ruang kolaborasi lintas sub-suku di wilayah Domberai.
Misi Menghidupkan Kembali Identitas yang Mulai Pudar
Ketua pelaksana, Andrey Maryen, mengatakan jambore ini digelar sebagai jawaban atas mulai memudarnya nilai-nilai adat di kalangan generasi muda Papua. Ia berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kembali kesadaran akan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
"Kami harap kita bisa kembali menumbuhkan nilai-nilai adat budaya yang mungkin mulai dilupakan atau bahkan kehilangan identitasnya," kata Andrey Maryen, Rabu (5/8/2026).
Seluruh proses kepanitiaan dan pelaksanaan acara dilakukan oleh pemuda-pemudi asli Papua. Hal ini disebut sebagai bukti bahwa generasi muda Papua mampu berdiri di kaki sendiri dan menjadi tuan di tanahnya sendiri.
Apresiasi Kementerian: Pemuda Kunci Pemajuan Kebudayaan
Direktur Bina Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan RI, Julianus Limbeng, mengapresiasi langkah inovatif pemuda adat Papua. Menurutnya, pemajuan kebudayaan di Tanah Papua tidak bisa bergantung hanya pada pemerintah daerah atau balai pelestarian semata.
"Melalui jambore ini, para pemuda tidak hanya menimba pengalaman, juga memetakan potensi budaya sebagai aset berharga untuk identitas sekaligus kesejahteraan ekonomi masyarakat," ujar Julianus.
Ia menegaskan, tanpa keterlibatan pemuda sebagai pemegang tongkat estafet, kekayaan budaya yang luar biasa di Tanah Papua sulit bertahan.
Malam Puncak di Gedung Lambert Jitmau
Rangkaian jambore dijadwalkan berlangsung hingga 10 Agustus 2026. Malam puncak akan digelar di Gedung Lambert Jitmau, Kompleks Perkantoran Wali Kota Sorong pada 11 Agustus 2026, dan direncanakan dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.
Staf Ahli Bupati Sorong, Marthen Nebore, menilai ruang kolaborasi pemuda adat bersama pemerintah sangat penting untuk menggali kembali warisan kearifan lokal yang belum terekspos.
"Melalui kebudayaan dan nilai adat, kita menunjukkan identitas diri kita. Banyak potensi daerah yang belum terangkat dan ini bisa kita kembangkan bersama menjadi aset yang membanggakan," ucap Marthen Nebore.